Juventus Punya Situs Berbahasa Indonesia

Juventus Punya Situs Berbahasa Indonesia

Juventus Punya Situs Berbahasa Indonesia - Para Juventini di tanah air boleh bangga karena Juve adalah klub Eropa pertama yang punya situs berbahasa Indonesia. Lisensi resmi dari markas pusat Bianconerri di Turin pun telah didapatkan, dan akan bersanding dengan negara Asia lainnya yaitu China.

Situs tersebut dapat diakses di alamat www.juventus.co.id. Ini tentu saja merupakan kebanggaan tersendiri bagi para Juventini mengingat banyak klub Eropa yang memiliki fans besar di Indonesia namun belum memilikinya.

"Kami sangat senang dengan adanya terobosan baru ini. Ini membuktikan kalau kami benar-benar dianggap sebagai sebuah kelompok supporter resmi Juve di Indonesia. Kami bangga," seru Ketua Juventini Indonesia, Koko, kepada detiksport, Minggu .8/6/2009) siang WIB.



"Insya Allah mudah-mudahan nanti pada bulan Juli atau Agustus, situs ini akan luncurkan secara resmi," sambungnya.

Lalu bagaimana prosesnya hingga akhirnya kerjasama itu bisa terjadi? Italo Gani selaku chief commercial M-Stars mengungkapkan bahwa mereka sebagai rekanan Juventini Indonesia telah melakukan kontak ke manajemen Juve di Italia.

Dikatakannya, selama dua bulan terakhir dia telah mengunjungi negara-negara seperti Inggris, Spanyol dan Italia untuk mensosialisasikan ide situs resmi klub untuk berbahasa dengan klub setempat, seperti Liverpool, Real Madrid dan Juve.

"Namun dari ketiga klub tersebut, hanya Juventus yang terlihat antusias dan tidak beribet prosesnya. Lain hal kalau Madrid dan Liverpool, di mana sangat sulit sekali untuk meminta mereka membuat situs berbahasa Indonesia. Padahal fan base mereka juga besar di sini loh," ungkap Italo yang juga seorang Juventini itu.

Dalam acara tersebut tidak hanya pre-launching situs resmi Juventus Indonesia saja, namun ada juga pertandingan futsal persahabatan antara tim Juventini Indonesia dengan Kuningan Futsal Village yang dimenangi Juventini dengan skor 7-3.

Juga ada acara ramah-tamah, games dan pengumuman gathering nasional Juventus Indonesia yang diadakan di Jogjakarta, 18-19 Juli.

Jadi selamat ya buat Juventini Indonesia, Bravo Juventini Indonesia !
( key / a2s )

Label:

Zona Transfer liga inggris

Zona Transfer liga inggris -
Pemain Dari Ke Keterangan
Niko Kranjcar Portsmouth Tottenham Full Ownership
Tal Ben Haim Man City Portsmouth Full Ownership
Ricardo Rocha Tottenham Standard Free Transfer
David Nugent Portsmouth Burnley Loan
Ibrahima Sonko Stoke Hull Loan
Danny Collins Sunderland Stoke Full Ownership
Nsereko Savio West Ham Fiorentina Full Ownership
Da Costa Fiorentina West Ham Full Ownership
C. Itandje Liverpool Kavala Loan
Andriy Shevchenko Chelsea Dynamo Full Ownership
Michael Brown Wigan Athletic Portsmouth Full Ownership
Tuncay Sanlı Middlesbrough Stoke Full Ownership
Stephen Warnock Blackburn Aston Villa Full Ownership
Sylvain Distin Everton Portsmouth Full Ownership
Tommy Smith Watford Portsmouth Full Ownership
Jay Simpson Arsenal QPR Loan
Robert Huth Middlesbrough Stoke Full Ownership
Joleon Lescott Everton Man City Full Ownership
D. Bilyaletdinov Lok. Moscow Everton Full Ownership
Krisztian Nemeth Liverpool AEK Athens Loan
Sylvinho Barcelona Man City Free Transfer
Sotiris Kyrgiakos AEK Athens Liverpool Full Ownership
Andras Simon Liverpool Cordoba Loan
Michel Salgado Real Madrid Blackburn Full Ownership
Nemanja Matic MFK Kosice Chelsea Full Ownership
Damien Duff Newcastle Fulham Full Ownership
Claudio Pizarro Chelsea Werder Bremen Full Ownership
Andre Bikey Reading Burnley Full Ownership
Daniel Simpson Man Utd Newcastle Loan
San Jose Liverpool Athletic Bilbao Loan
Radoslav Kovac Spartak West Ham Full Ownership
Anthony Vanden Borre Genoa Portsmouth Loan
Mineiro Chelsea Schalke 04 Full Ownership
Ghilas Celta Hull Full Ownership
Stephen Hunt Reading Hull Full Ownership
Michael Mancienne Chelsea Wolves Loan
Andy Marshall Coventry Aston Villa Full Ownership
Lee Cattermole Wigan Athletic Sunderland Full Ownership
Amaya Rayo Vallecano Wigan Athletic Full Ownership
Mohamed Diame Rayo Vallecano Wigan Athletic Full Ownership
Alberto Aquilani AS Roma Liverpool Full Ownership
Sebastien Bassong Newcastle Tottenham Full Ownership
Jozy Altidore Villarreal Hull Loan
Seyi Olofinjana Stoke Hull Full Ownership
Frederic Piquionne Lyon Portsmouth Loan
Darren Bent Tottenham Sunderland Full Ownership
Xabi Alonso Liverpool Real Madrid Full Ownership
Fabian Delph Leeds Aston Villa Full Ownership
F. Di Santo Chelsea Blackburn Loan
Steve Finnan Espanyol Portsmouth Full Ownership
Valeri Bojinov Man City Parma Loan
Elano Man City Galatasaray Full Ownership
Kolo Toure Arsenal Man City Full Ownership
Arbeloa Liverpool Real Madrid Full Ownership
Peter Crouch Portsmouth Tottenham Full Ownership
Samuel Ricketts Hull Bolton Full Ownership
Zat Knight Aston Villa Bolton Loan
Keith Treacy Blackburn Sheffield Utd Loan
Lorik Cana Marseille Sunderland Full Ownership
Diego Tristan West Ham Cadiz Free Transfer
Ched Evans Tottenham Sheffield Utd. Full Ownership
Dean Whitehead Sunderland Stoke Full Ownership
Felipe Caicedo Man City Sporting Loan
Kyle Walker Sheffield Utd Tottenham Full Ownership
Kyle Naughton Sheffield Utd Tottenham ull Ownership
Darius Vassell Man City Ankaragucu MKE Free Transfer
Semih Aydilek Birmingham Kayserispor Free Transfer
Emanuel Adebayor Arsenal Man City Full Ownership
Jason Scotland Swansea Wigan Athletic Full Ownership
Barry Ferguson Rangers Birmingham Full Ownership
Manucho Man Utd Valladolid Full Ownership
C. Alvarez Cordoba Arsenal Free Transfer
Stewart Downing Middlesbrough Aston Villa Full Ownership
Carlos Tevez Man Utd Man City Full Ownership
Paul Robinson West Bromwich Bolton Loan
Chris Mavinga PSG Liverpool Full Ownership
Fraizer Campbell Man Utd Sunderland Full Ownership
Jo Man City Everton Loan
Jermaine Pennant Liverpool Zaragoza Free Transfer
Gabriel Obertan Bordeaux Man Utd Full Ownership
Lee Bowyer West Ham Birmingham Free Transfer
Didier Zokora Tottenham Sevilla Full Ownership
Yuri Zhirkov CSKA Chelsea Full Ownership
Ronald Zubar Marseille Wolves Full Ownership
Michael Owen Newcastle Man Utd Free Transfer
Ross Turnbull Middlesbrough Chelsea Full Ownership
Rodrigo Possebon Man Utd Braga Loan
Hendry Thomas Olimpia Wigan Athletic Full Ownership
Sebastian Leto Liverpool Panathinaikos Full Ownership
David Edgar Newcastle Burnley Free Transfer
Michael Chopra Sunderland Cardiff City Full Ownership
Andrew Surman Southampton Wolves Full Ownership
Quaresma Chelsea Inter Milan End of Loan
Antonio Valencia Wigan Athletic Man Utd Full Ownership
Lars Jacobsen Everton Blackburn Full Ownership
Glen Johnson Portsmouth Liverpool Full Ownership
Gaël Givet Marseille Blackburn Full Ownership
Cristiano Ronaldo Man Utd Real Madrid Full Ownership
Roger Johnson Cardiff City Birmingham Full Ownership
Joe Hart Man City Birmingham Loan
Daniel Sturridge Man City Chelsea Full Ownership
Stuart Taylor Aston Villa Man City Full Ownership
Luis Antonio Jimenez Inter Milan West Ham Loan
Ben Sahar De Graafschap Chelsea End of Loan
Roque Santa Cruz Blackburn Man City Full Ownershipv
Thomas Vermaelen Ajax Arsenal Full Ownership
Jordi Gomez Swansea Wigan Athletic Full Ownership
Djimi Traore Portsmouth AS Monaco Full Ownership
Ulises De la Cruz Birmingham L.D.U. Free Transfer
Mehdi Nafti Birmingham Aris Salonicco Free Transfer
Blerim Dzemaili Bolton Torino Full Ownership
Stephen Kelly Birmingham Fulham Full Ownership
Scott Dann Coventry Birmingham Full Ownership
Christian Benitez Santos Laguna Birmingham Full Ownership
Elrio van Heerden Bruges Blackburn Free Transfer
Gareth Barry Aston Villa Man City Full Ownership
Mustafi Shkodran Hamburg Everton Full Ownership
Sami Hyypia Liverpool Bayer Leverkusen Free Transfer

Label:

Sepakbola Nyaris Ala PSSI

Sepakbola Nyaris Ala PSSI - Kualifikasi Piala Asia U-19 usai sudah. Tim nasional Indonesia yang sepenuhnya diisi para pemain yang berlatih di Uruguay selama dua tahun hanya bisa menempati peringkat ketiga dan gagal lolos ke putaran final. Tak lama sesudah itu, tim nasional senior gagal menaklukkan Kuwait di kandang sendiri. Ini kegagalan bernilai ganda: selain peluang lolos ke Piala Asia nyaris tertutup, kegagalan ini juga diimbuhi permainan buruk dan sarat tackling-tackling kasar yang kadang memalukan.

Reaksi terhadap dua kegagalan tim nasional itu beragam. Untuk tim nasional senior, umumnya publik merasa itu sebagai sesuatu yang wajar. Permainan yang minim kreativitas, stamina yang tak ajeg, dan emosi yang tak terkendali menjadi faktor minus yang banyak membuat sebal. Berkali-kali pemain Indonesia melakukan tackling yang bukan hanya kasar, tapi juga tak penting. Menggemaskan, memang, menyaksikan pemain sekelas Ismed Sofyan atau Ponaryo Astaman melakukan tackling kasar di areal yang justru tak berbahaya.



Puncaknya adalah saat Ismed menerima kartu kuning kedua di menit-menit awal babak kedua. Sungguh tackling tidak penting. Tapi publik yang cukup sering mengikuti tim nasional pasti tak merasa aneh dengan ulah "urakan" Ismed. Pada 12 Oktober 2004, saat menghadapi Arab Saudi di laga Pra Piala Dunia 2006, Ismed juga diganjar kartu merah, yang membuat Indonesia kalah 1-3. Pada laga Piala Asia 2007, juga saat melawan Arab Saudi, Ismed lagi-lagi melakukan pelanggaran tak penting hanya beberapa saat setelah ia masuk sebagai pemain pengganti. Hasilnya: Indonesia harus kebobolan gara-gara tendangan bebas itu.

Simaklah bagaimana Ismed, salah satu pemain paling senior di tim nasional, merefleksikan pelanggaran yang dibuatnya pada Piala Asia itu. Pada 28 November 2008, menjelang Piala AFF, kepada sebuah situs berita Ismed mengucapkan kalimat ini: "Yang saya lakukan di Piala Asia sebenarnya tidak terlalu fatal."

Lihatlah bagaimana seorang Ismed bahkan tak tahu betapa fatalnya pelanggaran yang pernah dia lakukan. Jika pelanggaran seperti itu pun dengan mudahnya dianggap enteng, tak perlu diherankan juga jika Ismed (lagi-lagi) melakukan kesalahan fatal yang merugikan tim.

Ismed, bagi saya, adalah cermin paling sempurna dari ketidakmampuan manajemen sepakbola Indonesia belajar dari masa lalu dan dari kesalahan-kesalahan yang pernah dibikin. Di situ, Ismed adalah simbol paling kontemporer betapa sepakbola Indonesia memang mengidap rabun dekat dan rabun jauh sekaligus: kesalahan terbaru dan kesalahan yang sudah jauh sama-sama tak pernah diingat dan digunakan sebagai bahan introspeksi.

Di level itu pulalah, barangkali, penyikapan terhadap tim nasional U-19, yang juga gagal lolos ke Piala Asia U-19, sebaiknya diposisikan.

Berbeda dengan penyikapan terhadap kegagalan tim nasional senior saat menghadapi Kuwait, Syamsir Alam, dkk., dianggap oleh banyak kalangan sudah memberi penampilan yang tidak mengecewakan.

Kekalahan telak oleh Jepang dan kekalahan tipis oleh Singapura tampaknya agak "dilupakan" berkat kemenangan atas Taiwan dan Hong Kong serta hasil seri saat berhadapan dengan tim kuat Australia. Penampilan elegan Syamsir Alam, kelincahan Alan Martha, kecepatan Abdul Rahman Lestaluhu, atau dribling Yericho Kristiantoko dianggap cukup menjanjikan.

Saya bisa memahami komentar-komentar positif macam itu, terlebih melihat permainan tim abal-abal tim nasional senior, atau performa tim nasional U-23 yang dipersiapkan menghadapi SEA Games di Laos pekan lalu juga kalah dari Malaysia dalam laga uji coba yang keras dan ricuh.

Tiga penampilan terakhir Syamsir Alam, dkk., dirasa sebagai sehembus angin segar di tengah berita-berita tak enak mengenai penampilan tim nasional senior. Harapan, tentu saja, amat penting. Tapi, saya khawatir, kita terlalu permisif dan longar dalam menyikapi perkembangan sepakbola Indonesia.

Dari masa ke masa, kita terlalu mudah berharap, terlalu gampang berbangga hati. Masih saja beredar "kebanggaan kecil" bisa menahan Uni Soviet 0-0 di laga pertama Olimpiade 1956, padahal di laga berikutnya Indonesia keok 0-4. Juga pretasi menahan seri Korea Selatan pada final grup II Asia di Senayan pada Pra-Olimpade 1976 kendati kemudian kalah di adu penalti.

Masih jelas juga ingatan bagaimana kita dengan mudah berbesar hati saat tim nasional U-19 yang berlatih di Italia (PSSI Primavera) "hanya" kalah 1-2 dan 0-1 oleh Korea Selatan pada ajang pra-Olimpiade 1996. Mengalahkan Bahrain dan hanya kalah tipis dari Korea Selatan dan Arab Saudi pada Piala Asia 2007 silam pun sudah membanggakan, padahal Indonesia gagal lolos ke putaran berikutnya dengan status sebagai tuan rumah.

Memang betul, Korea Selatan, Jepang atau Australia levelnya masih ada di atas Indonesia. Tak salah juga menyebut Syamsir Alam, dkk., masih punya masa depan, seperti halnya publik juga dulu pernah berkata demikian pada pemain tim nasional "Primavera" macam Kurniawan, Bima Sakti, Aples Tecuari sampai Kurnia Sandi.

Media massa juga kadang ikut-ikutan latah. Kurniawan "cuma" bermain di Lucerne B saja sudah diliput besar-besaran. Kurnia Sandi "hanya" berlatih di Sampdoria pun ditulis banyak, sampai-sampai pernah sebuah tabloid olahraga terbesar di Indonesia merasa perlu meliput momen di mana Kurnia Sandi kemungkinan --baru kemungkinan-- masuk ke daftar pemain cadangan Sampdoria gara-gara kiper kedua dan ketiga Sampdoria didera cedera.

Yang terbaru, komentator televisi saat laga terakhir Syamsir Alam, dkk., berkali-kali mengutip ucapan pelatih tim nasional U-19 dari Uruguay, Cesar Paylovich, yang mengabarkan beberapa klub Uruguay tertarik dengan bakat Yericho yang katanya mirip Roberto Carlos. Dimirip-miripkan ini juga kelatahan yang dulu amat sering diucapkan presenter siaran langsung Liga Indonesia atau Tim Nasional. Firmansyah disebut sebagai "Rio Ferdinand-nya Indonesia" atau Elli Aiboy pernah saya dengar dari komentator televisi sebagai "Thiery Henry-nya Indonesia".

Saya tidak sedang mengabaikan apa yang disebut sebagai "proses" dan serta merta menuntut hasil gemilang secara instan. Justru karena mementingkan proses itulah maka berharap datangnya prestasi secara instan dengan mengirimkan anak-anak muda berbakat untuk berlaga di kompetisi yunior di luar negeri harus terus menerus dikritisi.

Sejak era kepemimpinan Ali Sadikin, Kardono, Azwar Anas hingga sekarang dipimpin "bos besar" Nurdin Halid, PSSI tak pernah bosan mengirimkan tim nasional untuk berlatih di luar negeri. Dari mulai PSSI Garuda, Pratama, Binatama, Primavera, Baretti sampai yang terakhir PSSI SAD di Uruguay. Semua proyek itu hasilnya sama: serba nyaris.

Terus berbesar dan berbangga hati karena deretan prestasi yang hanya serba "nyaris": nyaris lolos ke Olimpiade, nyaris menang atas Australia atau Korea Selatan dll membuat PSSI kehilangan momentum untuk menyadari kesalahan dan kegagalan.

Saya sangat menghormati perjuangan Syamsir Alam atau Alan Martha, seperti juga saya menghormati kerja keras Bima Sakti, Aples Tecuari atau Kurniawan Dwi Julianto yang bisa mengimbangi dan (hanya) kalah tipis dari Korea Selatan pada 1994. Justru karena kita menghormati jerih payah merekalah kita selayaknya tidak terlalu berharap, berbesar hati atau berbangga hati.

Carut marut dan beban sejarah sepakbola Indonesia terlampau berat untuk dipikul oleh remaja-remaja berbakat seperti mereka. Kadang, saya merasa, "kita" terlalu memberi beban yang tak semestinya pada tulang mereka yang masih ringkih itu.

Oya, kata "kita" di atas sebaiknya diganti dengan kata PSSI. Boleh kok diucapkan dengan keras-keras. Itu malah dianjurkan, kendati saya tak yakin teriakan keras dengan toa sekali pun masih bisa didengar "bos besar" Nurdin Halid, yang pada 17 November kemarin merayakan ulang tahunnya yang ke-51.

Penampilan tim nasional senior menghadapi Kuwait adalah kado yang mau tak mau harus diterima oleh Nurdin. Entahlah apa itu kado yang manis atau pahit. Mungkin Nurdin juga tak bisa membedakan, toh ia juga tak tahu bedanya kegagalan dan keberhasilan.

Label:

MU Mulai Rawan

MU Mulai Rawan - Sudah lima kekalahan diderita Manchester United di Premier League musim ini. Mendekati masa krusial kompetisi, kondisi MU pun disadari mulai rawan.

Sementara pesaing utama mereka, Chelsea, masih menunjukkan performa yang relatif konsisten, The Red Devils mulai sering tersandung. Sebagai bukti, dalam tiga laga terakhir di liga mereka menelan dua kekalahan.



Kekalahan pertama diderita mereka di kandang sendiri kala berhadapan dengan Aston Villa. The Villans sukses memanfaatkan pincangnya pertahanan skuad MU, yang ditinggal beberapa bek utamanya, dengan kemenangan 1-0.

Terakhir, pada Sabtu (18/12/2009) 'Setan Merah' digilas Fulham tiga gol tanpa balas di Craven Cottage. Kekalahan ini membuat Chelsea, yang baru akan bertanding melawan West Ham United hari Minggu, memiliki kesempatan untuk semakin menjauh dari mereka.

Jika sukses menundukkan West Ham, The Blues bakal memiliki keunggulan enam angka atas MU. Chelsea pun bakal menjadi penguasa mutlak pada saat Natal, saat yang mana kerap menjadi tolok ukur apa yang bakal terjadi di akhir musim.

Sir Alex Ferguson pun sadar bahwa klubnya kini tengah terancam. Manajer asal Skotlandia ini hanya berharap kekalahan dari Fulham tak berimbas pada hilangnya gelar di akhir musim.

"Saya tak berharap keadaan di liga saat ini tidak terlalu merusak kami. Saya tak berharap keadaan ini tak membuat kami membayar dengan kegagalan di liga," ujarnya kepada MUTV.

Fergie kini hanya berharap agar barisan pertahanannya segera komplet. Saat ini Mu tengah ditinggal dua bek tengah utamanya, Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Selain keduanya, mereka juga ditinggal Wes Brown, Gary Neville, John O'Shea, Jonny Evans dan si kembar Rafael-Fabio da Silva. Hal ini menjadikan hanya Patrice Evra dan Ritchie de Laet sebagai bek murni yang masih fit.

"Kami membutuhkan bek-bek kami kembali untuk menyelamatkan peluang kami di liga, tak ada hal lain lagi. Jika kami memiliki mereka kembali, kami akan bangkit lagi."

"Lebih cepat mereka kembali lebih baik. Mereka tengah berusaha. Tim medis dan fisioterapis tengah berusaha keras untuk membuat mereka segera kembali. Saat ini kami belum melihat cahaya di ujung terowongan," tukasnya. ( roz / a2s )

Label:

Lawan Barca Selalu Mungkin Kalah

Lawan Barca Selalu Mungkin Kalah - Estudiantes nyaris menjadi satu-satunya tim yang bisa menggagalkan Barcelona untuk memenangi setiap turnamen yang diikutinya tahun ini. Namun, kalah dari Barca adalah sebuah keniscayaan besar.

Estudiantes hadir di FIFA Club World Cup 2009 sebagai juara Piala Libertadores, mewakili kawasan Amerika Selatan. Mereka pun mewujudkan skenario ideal final kejuaraan ini, yakni latin versus Eropa.



Dalam laga final hari Sabtu (19/12/2009) malam, Juan Sebastian Veron dkk betul-betul hampir menang dan juara. Mencetak gol lebih dulu di menit 37 melalui Mauro Boselli, tim Argentina ini sanggup menjaga keunggulannya sampai menit-menit terakhir babak kedua.

Akan tetapi Barca adalah Barca. Di menit 89, kemenangan yang sudah di depan mata seketika lenyap. Sundulan Pedro Rodriguez menyamakan kedudukan, dan gol dada Lionel Messi di menit 110 membuat mereka selesai sebagai runner up saja.

"Kami sangat dekat untuk meraih mimpi kami," tutur pelatih Alejandro Sabella seusai pertandingan, dikutip Reuters. "Yang paling menyakitkan adalah mereka menyamakan skor di sisa satu menit pertandingan."

Jika menang, Estudiates dipastikan mengulang sukses mereka di tahun 1968 ketika menjuarai Piala Interkontinental. Namun, sekali lagi, Barca adalah Barca dengan pesona hebat yang telah menyihir dunia di tahun ini.

"Jika Anda bertanding melawan sebuah tim seperti Barcelona, kekalahan selalu merupakan hasil yang paling mungkin," demikian apresiasi Sabella pada sang juara enam piala itu.
( a2s / roz )

Label:

Pep: Kuat dan Menanglah

Pep: Kuat dan Menanglah - Tertinggal satu gol di babak pertama sampai babak kedua hampir selesai, Barcelona berhasil mengalahkan Estudiantes dan menjadi juara dunia. Mental yang kuat adalah kunci sukses Los Blaugrana.

Meskipun mendominasi pertandingan puncak Piala Dunia Antarklub 2009, namun Barca malah bisa dijebol lawan melalui Mauro Boselli di menit 37, dalam laga di Abu Dhabi, Sabtu (19/12/2009) malam WIB.



Di babak kedua permainan Carles Puyol dkk meningkat, tapi sampai menjelang pertandingan berakhir mereka tak kunjung mendapat gol. Baru di menit 89, berkat sundulan Pedro Rodriguez, tim asuhan Josep Guardiola itu berhasil menyamakan kedudukan.

Di menit ke-20 extra time, Barca memantapkan performanya dengan gol Lionel Messi. Mereka pun menang 2-1 dan menjadi juara dunia -- total memborong enam piala di tahun ini.

“Sangat hebat. Kami sempat kalah dan waktu yang tersisa sangat sedikit,” demikian ulasan pendek Guardiola setelah pertandingan, dilansir Reuters.

"Di masa turun minum saya katakan pada anak-anak bahwa mereka harus kuat. Kami sempat terlalu lembek. Sebuah final seperti ini pantas untuk diperjuangkan dengan lebih baik."

Ditambahkan mantan gelandang internasional Spanyol itu, timnya memang pantas juara. "Enam titel dalam satu tahun sungguh tidak tertandingi," tukasnya merujuk pada sukses lain Barca di La Liga, Copa del Rey, Liga Champions, Piala Super Spanyol, dan Piala Super Eropa.

"Kami harus menderita sedemikian rupa untuk mencapai ke sana. Mereka meladeni kami dengan sangat baik di babak pertama," tutur gelandang Xavi. "Tapi kemudian, gol hebat dari Pedro datang, dan itu mengubah semuanya."

Label:

Fulham Akui Beruntung

Fulham Akui Beruntung - Berhasil menang dengan tiga gol tanpa balas tampaknya sulit untuk disebut sebagai keberuntungan. Namun jika itu terjadi ketika melawan tim yang kehilangan pilarnya di lini belakang, manajer Fulham, Roy Hodgson tak keberatan mengakuinya sebagai nasib baik.

Menjamu tim sekaliber Manchester United di Craven Cottage, Sabtu (19/12/2009) malan waktu setempat, Fulham tidak tampil minder. Tuan rumah berhasil memanfaatkan krisis bek yang melanda 'Setan Merah' untuk menang dengan skor 3-0.

Ya, pilar lini belakang MU memang hampir semuanya menepi pada periode bersamaan. Alhasil dalam laga tersebut, The Red Devils memainkan Darren Fletcher dan Michael Carrick yang merupakan gelandang di jantung pertahanan.

Tak hanya itu saja. Manajer Sir Alex Ferguson juga terpaksa memainkan Richi de Laet sejak awal untuk mendampingi Fletcher dan Carrcik yang masih cukup minim jam terbang.



Hodgson pun menyadari bahwa kemenangan timnya itu tidak lepas dari buruknya koordinasi dari bek-bek dadakan MU. Pelatih berusia 62 tahun ini dengan berbesar hati menyebut kemenangan timnya merupakan suatu keberuntungan di samping anak asuhnya yang bermain bagus.

"Kami beruntung pada hari ini. Kami bermain dengan United yang sedang dilanda permasalahan cedera. Kami tidak bisa melakukan lebih dari apa yang saya harapkan," tukasnya di Sky Sport.

"Saya juga cukup bersimpati kepada Sir Alex pada saat ini karena tidak mudah ketika Anda kehilangan empat pemain andalan anda di lini belakang. Namun kemenangan ini juga lahir karena permainan bagus kami," sambungnya. ( a2s / roz )

Label:

Free Kick Denilson Bikin Wenger Kaget

Free Kick Denilson Bikin Wenger Kaget = Gol Denilson dari tendangan bebas berhasil membuka kran Arsenal yang sebelumnya seret. Ternyata manajer Arsene Wenger pun kaget dengan gol tersebut karena Denilson bukan spesialis pengambil bola mati.

Menjamu Hull dalam lanjutan Liga Inggris di Emirates Stadium, Minggu (19/12/2009) dinihari WIB, Arsenal berhasil menang dengan skor 3-0. Namun tiga gol di laga itu tidak mudah di dapat begitu saja oleh tuan rumah.



Arsenal dipaksa menghadapi situasi deadlock sebelum akhirnya Denilson berhasil memecah kebuntuan melalui golnya di menit 45. Gelandang Asal Brasil itu sukses melepaskan tendangan bebas melewati pagar betis dan melengkung ke arah gawang dan kiper Boaz Myhill tak mampu menghalaunya.

Gol tersebut lantas melancarkan serangan Arsenal selanjutnya yang kemudian berhasi menambah selisih melalui lesakan dari Eduadi di menit 59 dan Abou Diaby di menit 80.

Wenger pun menilai bahwa gol pertama yang dihasilkan Denilson memiliki peran yang cukup penting dalam skor akhir. Namun usut punya usut, pelatih asal Prancis ini sendiri merasa terkejut si pemain berhasil mencetak gol lantaran selama ini dia sangat jarang memberikan kesempatan bola mati kepada Denilson.

"Denilson bukan spesialis pengambil tendangan bebas. Saya cukup terkejut, dia secara khusus tidak saya suruh karena Nasri yang akan mengambilnya namun dia berhasil melakukannya dengan baik," ujarnya di situs resmi klub.

"Saya pikir dia akan mengumpankan bola namun dia berhasil menembaknya dan berbuah menjadi gol. Hal itu membuat permainan menjadi berubah. Saya yakin yang membuat keadaan berubah adalah kami berhasil unggul sebelum jeda," sambungnya. ( a2s / roz )

Label:

Barca raih enam piala dalam satu tahun

Barca raih enam piala dalam satu tahun - Lengkap sudah koleksi piala di lemari FC Barcelona, menyusul kemenangan mereka di final Piala Dunia Antarklub 2009. Klub Spanyol ini pun menjadi tim pertama dalam sejarah yang meraih enam piala dalam satu tahun.

Sensasi dan pesona El Barca masih berlanjut ketika mereka mengalahkan Estudiantes 2-1 di Abu Dhabi, Sabtu (19/12/2009), untuk menambah panjang predikat mereka dengan status juara dunia.

Predikat lain yang telah mereka sandang di tahun ini adalah juara Liga Spanyol, juara Piala Spanyol, juara Eropa, juara Piala Super Spanyol, dan kampiun Super Eropa. Gelandang Xavi Hernandez sampai menyebut malam ini sebagai malam yang bersejarah.

"Akan sangat sulit," ujarnya tentang mempertahankan enam titel, dikutip Reuters. "Kalau kita melihat sejarah, cuma kami yang telah melakukannya (memenangi enam piala dalam satu tahun."



Piala yang terakhir diraih El Barca ini adalah yang pertama mereka koleksi. Tim Catalan pernah dua kali mendapatkan kesempatan serupa, tapi selalu gagal dan hanya menjadi runner up. Di final Piala Interkontinental (Piala Toyota) 1992 mereka ditundukkan Sao Paulo 2-1, dan di tahun 2006 kalah 0-1 dari Internacional pada edisi ketiga turnamen bertajuk FIFA Club World Cup.

Berikut ini catatan juara Barcelona di tahun 2009:

Liga Spanyol 2008/2009
Finish teratas dengan nilai 87 dari 38 pertandingan.

Copa del Rey 2008/2009
Menang agregat 4-1 atas Athletic Bilbao

Liga Champions 2008/2009
Menang 2-0 atas Manchester United di final

Piala Super Spanyol
Menang agregat 5-1 atas Athletic Bilbao

Piala Super Eropa
Menang 1-0 atas Shakhtar Donetsk

Piala Dunia Antarklub
Menang 2-1 atas Estudiantes ( a2s / roz )

Label: